Categories
Info

Masjid Dirusak, Jubir Ahmadiyah Singgung Isu yang Diaktivasi serta Penyerangan Musiman

Suara. com – Kasus perusakan Masjid Ahmadiyah oleh sekelompok massa di Sintang, Kalimantan Barat, pada Jumat (3/9) diyakini terjadi bukan karena masalah keyakinan. Menurut Juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana mengatakan memandang persoalan Ahmadiyah adalah teknik negara dan bangsa dapat harmonis.

Suara. possuindo – Fall perusakan Masjid Ahmadiyah oleh sekelompok massa di Sintang, Kalimantan Barat, pada Jumat (3/9) diyakini terjadi tidak merupakan karena masalah keyakinan.

Berdasarkan Juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana mengatakan memandang persoalan Ahmadiyah adalah bagaimana negara lalu bangsa bisa harmonis.

“Memandang masalah Ahmadiyah adalah sebetulnya memandang masalah bagaimana negara dan bangsa ini bisa harmoni, inch ujar Yendra saat dihubungi Suara. com, Selasa (7/9/2021).

Menurutnya permasalahan Ahmadiyah adalah isu yang diaktivasi sesuai kepentingan di waktu tertentu.

Baca Juga: Masjid Ahmadiyah Sintang Dirusak, Sensitivitas Pemerintah Dikritik

Sejumlah warga Ahmadiyah di Dusun Harapan Jaya, Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat usai masjid tempatnya beribadah disegel jelang hari Kemerdekaan RI ke-76. (Foto: dok. Jemaah Ahmadiyah Philippines (JAI)

“Jadi sudah jelas yakni ini bukan keyakinan, sebetulnya di aktivasi isunya. Menjadi ada kualitas isu yg diaktivasi sesuai kepetingan di waktu tertentu, ” kata dia lagi.

Sebab kata Yendra penyerangan terhadap Ahmadiyah tidak dilakukan setiap hari dan tidak diketahui waktu dan tempatnya.

“Bukan soal isu keyakinan, karena seandainya isu keyakinan mereka yang misalnya melakukan penyerangan Ahmadiyah berbasis keyakinan, harusnya dia itu tiap hari, tiap hari diserangnya. Tapi kan nyatanya tidak, ini musiman tergantung waktunya kapan serta tidak di semua tempat, ” tutur Yendra.

Menurut Yendra, kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah tidaklah berdiri sendiri. Yendra menuturkan, intoleransi terhadap warga Ahmadiyah karena berkaitan dengan Pemerintah yang tengah gencar mengkampanyekan moderasi beragama untuk mengilangkan radikalisasi di Indonesia.

“Jadi peristiwa ini kan bukan berdiri sendiri. Sebetulnya presiden dan pemerintahan saat ini kan sedang gencar tuk bagaimana moderasi beragama, toleransi, agar masyarakat itu kemudian tidak semakin tenggelam di dalam radikalisasi, kan itu tujuannya, ” kata dia.

Baca Juga: Bertambah, Tersangka Kasus Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Sintang jadi sixteen Orang

Yendra menuturkan dampak adanya radikalisasi yakni mengakibatkan teror, hingga perpecahan bangsa. Ia pun mencontohkan isu SARA di Pilpres.