Categories
Info

Rancangan Sholat Hari Ini dan Program Imsak Palembang 3 Mei 2020

Bahana. com – Jadwal sholat hari ini 3 Mei 2020 atau 10 Ramadan 1441 H. Rencana sholat Palembang hari ini bersandarkan Jadwal imsak atau imsakiyah Departemen Agama Republik Indonesia. Jadwal Sholat Palembang ini menandakan waktu ibadah selama bulan Ramadan.

–>

Perkataan. com – Agenda sholat hari ini 3 Mei 2020 atau 10 Ramadan 1441 H. Jadwal sholat Palembang keadaan ini berdasarkan Jadwal imsak ataupun imsakiyah Kementerian Agama Republik Nusantara. Jadwal Sholat Palembang ini menunjukkan waktu ibadah selama bulan Bulan berkat.

Biar suasana ramadan kali ini terasa berbeda karena adanya wabah COVID-19, namun amalan puasa tak hendak berkurang jika puasa tetap dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Jadwal sholat hari itu:

  • IMSAK 04: 31
  • SUBUH 04: 41
  • TERBIT 05: 55
  • DUHA 06: 22
  • ZUHUR 12: 01
  • ASAR 15: 22
  • MAGRIB 18: 01
  • ISYA’ 19: 12

Untuk memulai ibadah puasa ramadan, umat muslim wajib membaca niat puasa ramadan terlebih dahulu.

Ustadz M. Ali Zainal Abidin sebab Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember seperti dilansir dari NU. or. id, membaca satu diantara dari sholat fardhu yang telah dilaksanakan oleh seseorang diulang kembali, Maka status sholatnya telah bukan menjadi wajib, tapi berganti menjadi ibadah sunnah. Anjuran mengulang kembali sholat fardhu berdasarkan lupa satu hadits yang diriwayatkan sebab Yazid bin al-Aswad:

“Kami sholat Pagi buta bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tanah Mina. ”

Berarakan datang dua orang lelaki, mereka berdiam di atas kendaraan itu (tidak ikut sholat). Lalu Rasulullah memerintahkan untuk memanggil mereka berdua. Dua orang lelaki itu biar terlihat gemetar ketakutan, Rasulullah berkata pada dua lelaki tersebut:

“Mengapa engkau tak ikut sholat bersama orang-orang? Bukankah engkau orang muslim? ”

“Benar wahai Rasulullah, kami telah melaksanakan sholat di tempat kami, ” tanggungan dua lelaki tersebut.

Rasulullah lalu berceloteh: “Jika kalian sudah sholat di tempat kalian, lalu kalian mendekati imam (sholat jamaah), maka ikutlah sholat bersamanya, sesungguhnya sholat yang kalian lakukan adalah sholat sunnah. ” (HR. Baihaqi).

Namun mengulang balik jadwal sholat hari ini atau sholat fardhu ini tidak selalu merupakan sebuah anjaran yang disunnahkan, sebab terdapat berbagai ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi, biar seseorang dapat mengulang kembali sholatnya.

Meneruskan kembali sholat atau yang pokok dikenal dengan istilah I’adah, hanya disunnahkan tatkala dalam sholat dengan pertama terdapat sebuah kekurangan atau kecacatan dalam kesempurnaan sholat dengan tidak sampai berakibat pada batalnya sholat tersebut.

Misalkan seperti sholat perdana dilakukan tidak dalam keadaan berjamaah, sholat pertama tidak dilakukan dalam masjid dan lain sebagainya. Jadi sholat fardhu yang diulang balik harus lebih sempurna (akmal) kalau dibandingkan dengan sholat yang mula-mula. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

“Adapun i’adah adalah ketika seseorang telah melaksanakan sholat fardhu, lalu melihat terdapat suatu kekurangan, kecacatan dalam etika sholat atau kesempurnaan sholat, kemudian ia mengulang kembali sholatnya dengan pelaksanaan yang tidak terkandung kenistaan dan kecacatan. Hukum mengulang kembali sholat dalam keadaan demikian adalah sunnah. Misalnya seperti seseorang yang telah melaksanakan sholat dengan seorang diri, lalu ia menemukan orang lain yang melakukan sholat secara berjamaah, maka ia disunnahkan untuk meneruskan kembali sholatnya secara jamaah. Sholat fardhu baginya adalah tetap sholat yang pertama, dan sholat kedua menjadi sholat sunnah” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz satu, hal. 74).

Selain ketentuan di atas, ada pula lima persyaratan lain yang harus dipenuhi untuk dianjurkannya mengulang kembali sholat fardhu, kelima kondisi tersebut disebutkan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin berikut ini:

“Kesimpulan dengan dijelaskan para ulama’ bahwa mengulangi sholat dihukumi sunnah dengan tiga syarat. Pertama, sholat i’adah dijalankan pada waktu sholat. Kedua, meneruskan sholat tidak melebihi dari sekali. Ketiga, dilaksanakan dengan niat fardhu. Dan masih terdapat syarat lain (syarat keempat) yakni sholat dengan diulangi merupakan sholat ada’ (sholat pada waktu itu) bukan sholat qadha’. Dan syarat kelima, sholat yang pertama adalah sholat yang sah, meskipun masih butuh untuk diqadla’, seperti halnya sholatnya orang yang bersuci dengan tayamum sebab faktor kedinginan. ” (Syekh Bubuk Bakar bin Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 2, peristiwa. 9).

Jika salah satu dari bermacam-macam persyaratan yang dijelaskan di tempat tidak terpenuhi, maka mengulang kembali sholat fardhu (jadwal sholat keadaan ini) menjadi tidak disunnahkan buat dilakukan:

“Jika pada sholat yang baru tidak terdapat suatu kecacatan atau kekurangan, dan sholat yang diulangi tidak lebih sempurna dari sholat yang pertama, maka tidak disunnahkan untuk mengulangi sholat” (Dr. Musthofa al-Khin, Dr. Musthofa al-Bugha, Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji, juz 1, hal. 74).

Maka secara umum mampu disimpulkan bahwa terdapat enam persyaratan yang harus dipenuhi dalam kesunnahan mengulang kembali sholat fardhu yang harus dilakukan.

Pertama, sholat kedua harus lebih sempurna dari sholat dengan pertama.

Kedua, sholat i’adah harus dilakukan pada waktu sholat tersebut sedang ada, sehingga tidak disunnahkan mengulang kembali sholat fardhu tatkala zaman sholat tersebut telah habis. Misalkan seperti i’adah sholat Zuhur pada waktu ashar, maka hal itu tidak dianjurkan.

Ketiga, mengulang sholat hanya kepala kali saja.

Keempat, sholat i’adah meski sejatinya merupakan sholat sunnah, tapi pelafalan niatnya harus dengan rencana fardhu. Maka dalam lafal niat sholat i’adah sama persis dengan niat sholat fardhu yang dilakukan pertama, yakni sama-sama wajib menyertakan lafal “fardha”, misalkan dalam sholat Zuhur niat yang diucapkan adalah ‘Ushalli fardha adz-dzuhri arba’a raka’atin mustaqbil al-qiblati fardhan lillahi ta’ala’.

Kelima, sholat yang diulang adalah sholat ada’ bukan sholat qadha’, jadi tidak dianjurkan mengulang sholat dengan berstatus sebagai sholat qadha’, serupa ketika seseorang melaksanakan sholat subuh terlalu siang, maka ia lulus melakukannya satu kali saja, sebab tidak dianjurkan baginya untuk mengulang kembali sholat subuh tersebut.

Keenam, sholat fardhu yang pertama harus berkedudukan sebagai sholat yang sah, maka ketika dalam sholat yang perdana ternyata diketahui terdapat hal dengan membatalkan, maka wajib baginya meneruskan kembali sholat tersebut bukan berstatus sebagai sholat i’adah yang sunnah, tapi sebagai sholat fardhu dengan wajib. Wallahu a’lam.