Categories
Info

Sektor Pertanian saat Pandemi, Dorodjatun: Untung Pangan Tak Jadi Soal

Suara. com – Sidang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengatakan sektor pertanian bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan penting masyarakat Indonesia yang terkena efek langsung akibat situasi dan iklim pandemi Covid-19 berkepanjangan.

Suara. com – Dewan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara, Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengatakan daerah pertanian dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia dengan terkena dampak langsung akibat situasi dan kondisi pandemi Covid-19 selalu.

Secara terus berjalannya sektor pertanian zaman pandemi, menurut Dorojathun, hal itu menguntungkan masyarakat. Ia pun meminta semua elemen bangsa untuk menjaga dan merawat ketersediaan pangan nasional yang sejauh ini masih di dalam kondisi baik.

“Beruntung di tengah pandemi laksana saat ini food (pangan) tak jadi soal, kalau jadi perkara mati sudah kita, ” ujar Dorodjatun dalam sesi diskusi maya bertajuk ‘ Menakar Gaya Sektor Pertanian Sebagai Penopang Ekonomi Nasional ‘ yang diselenggarakan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Kelompok Universitas Indonesia (LPEM UI), Selasa, (23/2/2021)

Dorodjatun bilang, kebutuhan pangan otoriter dipenuhi secara berkelanjutan karena makanan adalah sumber utama dari bermacam-macam kehidupan.

Baca Selalu: UI: 1% Pertumbuhan Pertanian Berdampak pada 1, 36% Pertumbuhan Industri

“Sangat terlihat jelas bahwa sektor pangan di tengah pandemi jalan terus. Di Nusantara saja kalau terjadi krisis ekonomi masyarakat pasti pulang kampung serta bertanam. Jadi saya kira pada dunia ini perekonomiannya negatif semua. Namun untuk pertanian masih tentu. Sebab kalau kita bicara lambung, kita tidak bisa makan pengakuan, makan visi, makan misi, santap strategi dan makan yang lain-lain. Yang kita makan hanya pangan, ” katanya.

Terkait hal ini, Anggota Komisi IV DPR RI, Endang S Tohari menyayangkan kebijakan negeri yang memangkas anggaran lingkup Departemen Pertanian (Kementan) hingga mencapai 6 trilun. Menurutnya, kebijakan tersebut meyakinkan bahwa Political Will negara tidak mendaulat sektor pertanian sebagai sektor preferensi.

“Ini menunjukan political will kita terhadap pertanian tidak menjadi prioritas. Ke aliran, political will yang berpihak di dalam sektor pertanian akan kita perjuangkan. Sebab bangsa yang kuat ialah bangsa yang berdaulat terhadap bertabur. Pangan adalah soal mati hidupnya sebuah bngsa, ” katanya.

Sebelumnya, Peneliti Senior pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Usaha Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Riyanto, menemukan adanya kekuatan gede sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai Industri manufaktur.

Temuan tersebut, kata Riyanto, merujuk di dalam data, simana setiap 1 persen pertumbuhan sektor pertanian secara tak langsung berdampak besar terhadap tumbuh kembangnya 1, 36 persen kemajuan Industri.

Baca Juga: Mentan Minta Para Petani Gunakan Pupuk Bersubsidi secara Baik

“Ini hasil temuan pengkajian kita, dimana setiap 1 obat jerih pertumbuhan sektor pertanian, ada satu, 36 persen industri yang muncul secara masif. Jadi saya kira hubungan antara pertanian dan perekonomian lebih kuat dibanding hubunganya secara sektor industri, ” katanya.

Riyanto mengucapkan, pertanian dan agroindustri memiliki potensi besar untuk menjadi mesin penggerak dalam mendorong transformasi struktural dengan selama ini belum tuntas. Keduanya diperkirakan akan menjadi motor dalang dalam perbaikan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sektor pertanian itu selalu oleh sebab itu bahan baku industri. Makanya desa ke hilir memiliki danpak meyakinkan. Jadi menurut saya subsektor manufaktur yang musti didorong adalah daerah pertanian. Kenapa? karena bahan bakunya pasti menggunakan bahan pertanian, bahkan mencapai 24 persen, ” katanya.