Categories
Info

Tengku Ejek Mik Mati: Ada dengan Muka Manis, Tangan Gratil, Tiba-tiba Tung!

Suara. com awut-awutan Insiden mikrofon dimatikan pimpinan DPR ketika anggota Fraksi Partai Demokrat Irwan Fecho sedang menyampaikan penundaan dalam rapat paripurna pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja, Senin (5/10/2020), sore, diejek banyak kalangan, termasuk Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain.

–>

Suara. com – Insiden mikrofon dimatikan pimpinan DPR ketika anggota Fraksi Partai Demokrat Irwan Fecho sedang menyampaikan interupsi dalam rapat paripurna pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja, Senin (5/10/2020), sore, diejek banyak kalangan, termasuk Wakil Ketua Majelis Ustaz Indonesia Tengku Zulkarnain.  

“Jika wakil rakyat saja dianggap sepele, apalagi rakyatnya…? ” Demikian pemikiran yang menonjol jadinya. Peribahasa Melayu: “Kecil menggerutu, besar mijak, ” kata Tengku.

Melalui media sosial, Tengku tak kehabisan kata-kata untuk mengecam dan mengejek kejadian mikrofon dimatikan pimpinan DPR sehingga memicu aksi walk out sejak anggota Fraksi Demokrat sebelum UU Cipta Kerja disahkan. Dia menilai tindakan tersebut sama artinya menunjukkan sikap orang yang kurang berilmu sehingga tidak mampu adu kaidah di forum.

“Mau berdebat? Ilmu kurang… Mau ngotot? Persekot sudah terima… Situasi: Media sudah dikuasai. Alat siap mem-backing… Aktivis tidur… Para-para ahli keder… Media? Tiarap… Muncul tiba: “tangan bergerak” Dan… Tuungng…! Semua senyap… Layar ditutup. Sandiwara tamat… ” kata Tengku.

Tak cukup sampai di situ, Tengku selalu menyebut tipe-tipe karakter manusia yang digambarkan dengan tokoh tertentu dalam pernyataan di media sosial.

“Manusia itu ada bermacam-macam. Ada yang depan jelek hati jelek, Tuan Takur. Ada muka culun hati kejam, Polpot. Ada muka ganteng ganjil kejam, Mushollini. Tapi ada dengan mukanya manis, tapi tangan gratil… Tiba-tiba tung…! Suara orang lari… Ngeri kali, bah… ” prawacana Tengku.

Melalui media sosial, Irwan Fecho mengatakan tidak percaya dengan keterangan bahwa mikrofonnya mati karena bentuk pengaturan otomatis. Sebab, kata dia, “saya hanya bicara dua menit. Jadi kalau ada yang bilang mic saya mati karena otomatis setelah lima menit itu ngarang bebas. ” 

Politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik sampai menyebut insiden itu, “memalukan, melecehkan, dan sewenang-wenang. ”

Menurut Rachland Nashidik yang disampaikan melalui jalan sosial, pimpinan DPR telah menyelenggarakan contempt of parliament karena menyambut mikrofon saat anggota Fraksi Demokrat tengah menyampaikan pendapat.

“Tindakan Puan itu menghalangi anggota DPR terpilih dibanding Fraksi Partai Demokrat dalam melaksanakan tugasnya. Sila periksa definisi contempt of parliament, ” kata Rachland Nashidik.